Skip to main content

SISTEM LIMFORETIKULER (IMUNOLOGIK)

SISTEM LIMFORETIKULER
Sistem limforetikuler dapat dikelompokkan menjadi :
3.1 UNSUR SELULER
Terdiri dari limfosit T, limfosit B dan subset limfosit yang terutama berfungsi dalam respons imun spesifik, serta sel-sel lain yang berfungsi dalam respons imun nonspesifik. Semua sel yang berfungsi dalam respons imun, berasal dari sel induk pluripoten yang kemudian berdiferensiasi melalui dua jalur, yaitu: jalur limfoid yang akan membentuk limfosit dan subsetnya, dan jalur myeloid yang membentuk sel-sel fagosit dan sel-sel lain. Sel-sel imunokompeten yang utama, adalah limfosit T (sel T) dengan berbagai subsetnya dan limfosit B (sel B). Sel T berdiferensiasi dalam kelenjar timus, sedangkan sel B berdiferensiasi dalam bursa fabricius yang hanya terdapat dalam bangsa unggas. Disamping populasi limfosit masih ada sel-sel lain yang berfungsi dalam respons imun seperti : sel null, fagosit mononuclear (monosit dan makrofag), sel-sel polimorfonuklear (neutrofil, eosinofil dan basofil), mastosit dan trombosit (Abbas, 1991; Kresno 1991; Roitt dkk., 1993).
a. Limfosit T
Limfosit T berperan pada berbagai fungsi imunologi, yaitu sebagai efektor pada respons imun seluler dan sebagai regulator yang akan mengatur respons imun seluler dan respons imun humoral. Untuk membedakan limfosit T dengan limfosit B, dapat dilakukan dengan mereaksikan limfosit dengan eritrosit domba. Limfosit T dapat membentuk roset dengan eritrosit domba secara spontan, sedangkan limfosit B tidak. Berkat adanya antibodi monoklonal, kemudian terungkap bahwa molekul pada permukaan limfosit T yang dapat mengikat eritrosit Domba tersebut terdiri atas molekul glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor. Molekul ini sekarang dikenal dengan sebutan CD2 (CD = clusters of differentiation). Dari jumlah limfosit yang ada dalam sirkulasi, 65 – 80% merupakan limfosit T. Dalam perkembangannya di Timus, sel T mengekspresikan bermacam-macam antigen permukaan diantaranya CD4, CD5 dan CD8. Namun dalam perkembangan selanjutnya sebagian antigen itu menghilang dan sebagian lagi menetap, yang akan menandai subset limfosit T. Pada fase pematangan sel T lebih lanjut, antigen CD5 menghilang, kemudian sel T berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi salah satu subset sel T. Sel yang kehilangan antigen CD4, tetapi tetap menunjukkan antigen CD8, akan menjadi sel T penekan (T suppressor = Ts) dan sel T sitotoksik (T cytotoxic = Tc). Sedangkan sel yang kehilangan CD8, tetapi tetap menunjukkan CD4, akan menjadi sel T penolong ( T helper = Th). berdasarkan antigen permukaanya maka Ts dan Tc dikenal sebagai CD8 +, sedangkan Th dikenal sebagai CD4+. berkat adanya antibodi monoclonal yang dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai antigen permukaan, maka limfosit CD4+ dapat dikelompokkan lagi kedalam dua subset yang ternyata mempunyai fungsi yang berbeda yaitu T helper inducer yang berproliferasi atas rangsangan antigen larut dan memicu sel B untuk memproduksi antibodi, dan subset lain yaitu suppressor-inducer yang berproliferasi atas rangsangan concanavalin A dan sel autolog, serta berfungsi menyulut sel CD8+ untuk menghambat atau menekan sel B untuk memproduksi antibodi. Sel T suppresoor-inducer ini, tidak bereaksi terhadap antigen yang larut.
b. Limfosit B
Limfosit B, adalah sel-sel dalam sistem imun yang mengkhususkan diri dalam pembentukan antibodi. Hematopoetik sebagai pendahulu sel pra-B dalam sumsum tulang membelah diri dengan cepat dan akan menjadi jenis sel berukuran besar yang mengandung rantai u, sel prekursor mengatur kembali gena variabel (V) dengan gena D dan gena J. Tingkat pematangan sel B dapat diketahui dengan menentukan ciri-ciri sel B, sesuai dengan stadium pematangannya, yaitu: ada tidaknya imunoglobulin intrasitoplasmik, imunoglobulin permukaan (surface immunoglobulin = sIg), dan antigen permukaan lainnya. Sel B primitif (pra-B) ditandai dengan adanya: rantai u sitoplasma, tanpa rantai ringan, tidak memiliki rantai ringan dalam sitoplasmanya, dapat mengekspresikan Hla-DR dan reseptor untuk C3b, tetapi tidak memiliki reseptor Fc. Sel-sel pra-B membelah diri dengan cepatan menjadi sel dengan ukuran yang lebih kecil. Apabila sel-sel para-B telah memiliki molekul Ig sebagai molekul integral membran selnya, maka sel tersebut telah berkembang menjadi sel muda. sel muda dengan cepat memiliki reseptor untuk virus Epstein barr, C3B dan untuk Fc dari Ig G. Semakin dewasa selnya, akan dijumpai pula Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I yang juga semakin bertambah jumlahnya.
Sel B perawan (virgin) yang terdapat didalam sumsum tulang, dan belum pernah terpapar oleh antigen, umumnya menunjukkan respons yang lebih lambat dibandingkan dengan sel B yang terdapat dalam jaringan limfoid perifer. Apabila sel B mendapat rangsangan dari antigen atau imunogen, maka limfosit B akan mengalami dua proses perkembangan yaitu : pertama, akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig), dan kedua akan membelah dan kemudian kembali dalam keadaan istirahat sebagai limfosit B memory. Apabila kemudian ada rangsangan antigen pada sel memori ini, maka akan timbul reaksi yang lebih cepat dari reaksi pertama tadi dan menyebabkan sel B berproliferasi menjadi sel plasma yang akan mensekresikan Ig spesifik.
Sel B dapat mengenali antigen yang berkadar sangat rendah. hal ini disebabkan oleh karena sel B mempunyai sIg yang berfungsi sebagai reseptor untuk antigen. Melalui proses endositosis antigen yang ditangkap oleh sIg tersebut masuk kedalam sitoplasma hanya dalam beberapa menit saja, untuk kemudian diproses menjadi fragmen-fragmen. Melalui proses eksositosis fragmen antigen ini bersama-sama dengan MHC kelas II disajikan pada limfosit T, sehingga dengan demikian sel B juga berfungsi sebagai antigen presenting cell (APC).
c. Sel Plasma
Sel Plasma merupakan fase diferensiasi terminal dari perkembangan sel B dalam upaya memproduksi dan mensekresi antibodi. Sel plasma tidak dapat membelah lagi dan pada permukaannya tidak dijumpai adanya s Ig maupun reseptor-reseptor seperti yang dimiliki sel B. Sel plasma berukuran lebih besar dari limfosit dan ditandai dengan inti bulat yang letaknya eksentris dan berkromatin kasar seperti roda. Satu sel plasma dapat melepaskan beribu-ribu molekul antibodi setiap
detiknya.
d. Antigen Presenting Sel (APC)
Sel-sel ini, berfungsi untuk menyajikan antigen kepada sel limfoid yang tersensitisasi. Supaya antigen dapat dikenal oleh sel limfoid, penyajian antigen yang telah diproses, dilakukan bersama ekspresi MHC kelas II pada permukaan sel. Makrofag, disamping berfungsi sebagai fagosit yang profesional, juga merupakan APC yang pertama diketahui. Dalam garis besarnya, semua sel yang menampilkan MHC kelas II dapat bertindak sebagai APC, misalnya: sel-sel dendritik, kupfer, langerhans, endotel, fibroblast dan sel B. Diantara sel-sel diatas, sel dendritik, makrofag dan sel B merupakan APC yang
terpenting.
3.2 Unsur Organ dan Jaringan
Organ dan jaringan limfoid dibagi dalam dua kelompok utama, yaitu organ limfoid primer seperti timus, ekivalen bursa fabricius dan sumsum tulang.yang berfungsi sebagai embriogenesis dari sel-sel imunologik, dan organ limfoid sekunder seperti, kelenjar limfe, limfa dan jaringan limfoid lainnya, yang bereaksi aktif terhadap stimulasi antigen. Kelenjar timus, dianggap sebagai organ limfoid utama dalam imunogenesis dan menjadi pusat pengendalian aktivitas organ serta jaringan limfoid yang lainnya (Bellanti,1985; Abbas1991; Subowo 1993; Roitt dkk., 1993).
Menurut fungsinya, sistem limfoid dibagi dalam dua kompartemen yaitu :
a. Kompartemen sentral
Merupakan tempat terjadinya diferensiasi sel-sel yang mampu beraksi dengan antigen.
b. Kompartemen perifer
Sebagai tempat terjadinya reaksi sel-sel limfoid dengan antigen. Rangsangan untuk maturasi sel pada kompartemen sentral tidak diketahui secara pasti, namun diduga proliferasinya dipengaruhi oleh hormon timus dan dapat terjadi tanpa stimulasi antigen. Sebaliknya, maturasi sel pada kompartemen perifer terjadi atas stimulasi antigen.
3.2.1 Organ Limfoid Primer
a. Kelenjar Timus
Kelenjar timus terletak dibagian depan mediastinum, terbagi dalam dua lobus dan banyak lobulus yang masing-masing terdiri atas korteks dan medula. Sel induk pluripoten yang merupakan cikal bakal sel T, masuk kedalam timus lalu berproliferasi menjadi sel yang disebut dengan timosit. Proses diferensiasi limfosit didalam timus, dipengaruhi oleh epitel timus dan sel dendritik yang berasal dari
sumsum tulang (interdigitating cells). Sel dendritik ini mengekspresikan MHC kelas II dalam jumlah banyak dan diduga berperan dalam mendidik limfosit T untuk mengenal antigen diri (self). Dalam proses maturasi ini sel T menjadi imunokompeten. Dua sampai tiga hari, setelah sel induk masuk kedalam timus, limfosit meninggalkan timus lalu masuk kedalam sirkulasi dan selanjutnya menetap didalam organ limfoid perifer.
b. Sumsum tulang dan ekivalen bursa fabrisius
Spesies unggas, mempunyai organ limfoid primer yang berasal dari epitel usus janin yang disebut dengan bursa fabrisius. Sel induk pluripoten yang memasuki bursa fabrisius berdiferensiasi menjadi sel B yang mampu membentuk antibodi. Organ semacam ini tidak dijumpai pada mamalia, akan tetapi diketahui bahwa sel B pada mamalia berdiferensiasi dalam sumsum tulang dan dalam organ
limfoid perifer. Selain tempat pematangan sel B, sumsum tulang juga mengandung sel T matang dan plasmosit. Dengan demikian, sumsum tulang disamping sebagai organ limfoid primer, juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder.
3.2.2 Organ Limfoid Sekunder
Pembentukan limfosit dalam organ limfoid primer diikuti dengan migrasi sel-sel tersebut kedalam organ-organ limfoid perifer atau limfoid sekunder. Migrasi ini merupakan salah satu proses sirkulasi limfosit didalam tubuh. Adapun tahap-tahap surveillance imunologik dari limfosit di dalam tubuh
adalah sebagai berikut :
1. Migrasi sel induk pluripoten dari hati janin atau sumsum tulang kedalam organ limfoid primer serta diferensiasi dan distribusi limfosit kedalam organ limfoid perifer.
2. Resirkulasi limfosit dari peredaran darah kedalam limfa atau kelenjar limfe kembali ke peredaran darah lagi.
3. Distribusi sel efektor ketempat-tempat tertentu bila diperlukan untuk melakukan reaksi imunologik.
4. Limfosit T cendrung bermigrasi ke kelenjar limfe perifer, sedangkan limfosit B lebih banyak bermigrasi ke jaringan limfoid yang terdapat pada sepanjang mukosa (mukosa associated lymphoid tissue = MALT).
Adapun jenis-jenis dari organ limfoid sekunder adalah sebagai berikut :
a. Kelenjar Limfe
Dalam bagian sinus dari kelenjar limfe terdapat banyak makrofag, sedangkan dalam bagian korteksnya terdapat banyak sel T yang berasal dari darah, serta sel B yang menyusun diri membentuk nodul. Dibagian tengah dari nodul, terdapat pusat germinal dimana kelompok-kelompok sel B membelah diri secara aktif. Bila kelenjar dirangsang oleh antigen, maka pusat-pusat germinal itu membesar dan berisi banyak limfoblast. Pusat-pusat germinal diatas juga dihuni oleh banyak sel dendritik yang mempunyai reseptor untuk C3 dan fragmen Fc dari IgG. Dengan demikian antigen yang tidak diproses dapat dipertahankan pada permukaan sel ini dalam bentuk kompleks antigen
antibodi-C3 selama beberapa bulan. Antigen yang tertangkap ini diduga memberikan rangsangan secara periodik dengan sewaktu-waktu melepaskan iccomes yang kemudian ditangkap dan diproses
oleh APC dan disajikan kepada sel T. Hal ini akan mengakibatkan sel T secara terus menerus akan merangsang sel B memory untuk berproliferasi dan membentuk pusat-pusat germinal.
b. Limfa
Limfa terdiri atas pulpa merah sebagai tempat penghancuran eritrosit dan pulpa putih yang terdiri atas jaringan limfoid. Didalam limfa limfosit T menumpuk dibagian tengah lapisan limfoid periarteriolar,
sedangkan sel B terdapat didalam pusat-pusat germinal dibagian perifer. Sel B dapat dijumpai dalam bentuk tidak teraktivasi maupun teraktivasi. Dalam pusat-pusat germinal juga dijumpai sel dendritik
dan makrofag. Makrofag spesifik umumnya terdapat didaerah marginal dan sel ini bersama-sama dengan sel dendritik berfungsi sebagai APC yang menyajikan antigen kepada sel B.
c. Jaringan Limfoid lain
Jaringan limfoid lain tersebar dalam jaringan submukosa saluran nafas, saluran cerna dan saluran urogenital. Contoh jaringan limfoid yang tersusun baik dan mengandung banyak pusat-pusat germinal adalah tonsil yang merupakan garis pertahanan pada pintu masuk saluran cerna dan saluran nafas, dan Peyer,s patch yang tersebar dalam mukosa saluran cerna. Peyer,s patch dan apendiks termasuk kedalam gut-associated lymphoid tissue (GALT). Dalam jaringan limfoid ini terdapat bagian yang dipengaruhi oleh timus.
Mucosa associated lymphoid tissue (MALT), yang terdapat pada saluran nafas, saluran cerna dan urogenital berfungsi untuk memberikan respons imunologik lokal pada permukaan mukosa. Jaringan limfoid ini selain berisi limfosit juga berisi fagosit sehingga mampu memberikan respons imun nonspesifik maupun respons imun spesifik. Didalam jaringan limfoid sepanjang saluran cerna dan saluran nafas akan terbentuk IgA sekretorik dan Ig E yang disekresikan untuk mempertahankan tubuh terhadap antigen yang masuk melalui mukosa.

Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN SPESIFISITASI ANTISERA

LAPORAN PRAKTIKUM SEROLOGI DAN IMUNOLOGI PEMERIKSAAN SPESIFISITAS ANTISERA I.                     TUJUAN 1.        Untuk mengetahui cara pemeriksaan spesifisitas antisera 2.        Untuk mengetahui analisa reaksi koagulan yang terjadi 3.        Untuk memahami proses pembuatan eritrosit 5% II.                   DASAR TEORI Dalam transfusi darah, penetapan golongan persyaratan yang mutlak di samping persyaratan lainnya. Ketidaksesuaian golongan darah donor dengan golongan darah resipien akan mengakibatkan reaksi-reaksi alergi dan yang paling fatal adalah syok anafilaktik. Ada beberapa sistim penggolongan darah, namun yang terpenting untuk tujuanklinis adalah sistim penggolongan darah ABO dan Rhesus. Me...

PEMERIKSAAN AVIDITAS DAN TITER ANTISERA

LAPORAN PRAKTIKUM SEROLOGI IMUNOLOGI PEMERIKSAAN AVIDITAS DAN TITER ANTISERA I. TUJUAN 1.Untuk mengetahui cara pemeriksaan aviditas dan titer antisera. 2.Untuk menghitung waktu titernya penggumpalan. 3.Untuk mengetahui kecepatan proses koagulasi bedasarkan perbedaan konsentrasi antisera. II.DASAR TEORI Imunologi adalah cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan respons organisme terhadap penolakan antigenic, pengenalan diri   sendiri dan bukan dirinya, serta semua efekbiologis, serologis dan kimia fisika fenomena imun. Lingkungan Di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur pathogen misalnya: bakteri, virus, jamur, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen.   Reaksi imunologis merupakan mekanisme yang berka...

LAPORAN PRAKTIKUM UJI KUALITATIF LIPID DAN KOLESTEROL

III.     UJI KUALITATIF LIPID DAN KOLESTEROL   BIOKIMIA FARMASI I.                    Tujuan Percobaan Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu melakukan detesi lipid secara kualitatif melalui uji kelarutan dan ketidak jenuhan serta melakukan uji kualitatif kolesterol. II.                 Dasar Teori Lipid adalah salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia ialah lipid. Untuk memberikan defenisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Para ahli biokimia sepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukkan kedalam satu kelompok yang disebut lipid. Jaringan bawa...